Indonesian Contents

Nareman warga Palestina, Sekretaris untuk People in Solidarity with Palestinians

Pada “land day”, kami tidak mempersingkat cerita atau memecahnya menjadi bagian-bagian. Tanah ini bukan sekadar kenangan juga bukan judul untuk suatu hari peringatan dalam setahun.

Ia adalah awal dari seluruh kisah esensinya yang paling dalam dan pusat di mana segala sesuatu berputar sejak sebelum Nakba hingga hari ini.

Sejak awal tujuannya sudah jelas: sebuah tanah tanpa rakyat. Namun ada satu kebenaran yang tak mampu dihancurkan oleh proyek apa pun: sebuah rakyat yang berakar kuat di tanahnya,tak peduli berapa lama waktu berlalu atau seberapa keras upaya pencabutan itu terjadi.

Apa yang terjadi pada tahun 1976 bukan sekadar protes.Itu adalah sebuah deklarasi yg tegas: bahwa tanah tidak bisa dirampas,

dan bahwa hubungan dengannya bukanlah hukum yang bisa dicabut, melainkan sebuah keberadaan yang tidak bisa dipisahkan.

Sejak hari itu perjuangan tidak pernah berhenti namun menjadi semakin jelas.

Hari ini dalam apa yang sedang terjadi, kenyataan tersingkap dengan gamblang.

Di Gaza, kehancuran bukanlah sesuatu yang sementara melainkan sistematis, berulang setiap hari di hadapan dunia.

Di sisi barat, ekspansi terus berlangsung tanpa henti perampasan terus berlanjut, seolah waktu sendiri berpihak pada penggusuran.

Di sinilah kejelasan menjadi penting. Apa yang kita saksikan hari ini bukanlah eskalasi yang terpisah melainkan kelanjutan langsung dari lintasan puluhan tahun lalu.

Hari Tanah bukan sekadar peringatan simbolis.Ia adalah konfrontasi terhadap kesinambungan ini: bahwa tanah masih terus menjadi sasaran,

dan bahwa rakyat Palestina tetap terikat padanya bukan sebagai slogan, melainkan sebagai tindakan untuk bertahan hidup.

Kami tidak memperingati hari ini bukan hanya untuk mengenang tetapi untuk memutus pengulangan ini. Untuk mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak bisa dianggap normal, dan bahwa diam yang terus berlanjut bukanlah netralitas—melainkan bagian dari masalah.

Judul aksi ini lahir dari realitas tersebut:

“Peringatan ke . Hari Tanah” bukanlah kembali ke masa lalu, melainkan penegasan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah kisah yang sama yang terus berlangsung.

“29 Maret – Hari Aksi Nasional” menerjemahkan kesadaran ini menjadi tindakan di mana sikap tidak berhenti sebagai gagasan, melainkan menjadi kehadiran dan tekanan di jalanan.

Dalam konteks ini, posisi dinyatakan dengan jelas: menolak untuk perang-perang Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

Perang-perang ini bukan kebijakan yang terpisah, melainkan bagian dari pendekatan yang lebih luas yang mereproduksi kekerasan di Palestina dan di seluruh Timur Tengah mengubah kawasan menjadi ladang konflik permanen.

Di bawah pendekatan perang ini dipaksakan sebagai kenyataan dan masyarakat diperintah di bawah pengawasan dan tekanan seolah keamanan hanya dapat dicapai melalui kekuatan.

Penolakan ini bukan sekadar slogan ini adalah sikap yang jelas: menolak perang-perang mereka di Timur Tengah menolak intervensi mereka di kawasan in dan menolak normalisasi kehancuran sebagai kebijakan.

Hak tidak diberikan oleh kekuasaan juga tidak dihapus oleh sebuah keputusan. Dan tanah tidak bisa dibentuk ulang sesuai keseimbangan kekuatan.

Seperti yang dikatakan Tawfiq Ziad: “Kami tetap di sini, seolah kami adalah dua puluh kemustahilan di Lydda, Ramla, dan Galilea.”

Ini bukan sekadar puisi ini adalah kenyataan yang terbukti setiap hari.

Untuk tetap tinggal, di tengah segala yang terjadi saat ini adalah makna penuh dari Hari Tanah.

Dan pada hari ini kata-katanya tidak berubah: Tanah ini adalah milik kami melalui keberadaan kami di atasnya dan keteguhan kami di dalamnya—dan keberlanjutan kami tak peduli sekeras apa pun realitas yang dihadapi.

Chae Min-sok, Kepala Tim Perdamaian Anti-Perang Bidang Kesehatan-Koalisi Organisasi Kesehatan

Presiden Lee Jae-myung pada tanggal 25 lalu menghadiri upacara peluncuran pesawat tempur buatan Korea “KF-21” dan berkata “Kami tidak hanya akan menyediakan sistem persenjataan terbaik di dunia kepada negara mitra, tetapi juga akan berbagi teknologi yang kami miliki. Kami tidak akan berhenti menantang diri demi menjaga perdamaian dunia dengan kekuatan teknologi kami” Namun saat ini, banyak orang terus kehilangan nyawa di Iran, Lebanon dan Palestina. apakah menjual senjata benar-benar dapat menjaga perdamaian?

Apakah ekspor senjata dan pengiriman pasukan untuk mereka yang mengebom anak-anak SD yang seharusnya sedang berbincang dengan teman-temannya di sekolah, atau tenaga medis yang berjuang menyelamatkan nyawa di tengah hujan bom itulah “perdamaian” yang ingin dijaga oleh pemerintahan Lee Jae-myung? Beberapa politisi berbicara tentang kepentingan nasional sambil mengusulkan pengiriman pasukan, tetapi kepentingan nasional dan perdamaian untuk siapa sebenarnya? Bukankah pada akhirnya itu adalah kepentingan para kapitalis yang mendorong pertumbuhan di pihak imperialisme Amerika Serikat, serta kelas penguasa Korea yang diuntungkan darinya?

Akibat perang ini, industri pertahanan Israel menikmati masa kejayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Anak-anak Trump memperoleh keuntungan besar dengan berinvestasi pada drone. Orang-orang terdekat Gedung Putih memanfaatkan rahasia negara untuk meraup keuntungan sebesar 580 juta dolar hanya dalam beberapa menit melalui perdagangan minyak. Jared Kushner, menantu Trump yang menangani negosiasi dengan Iran, adalah CEO firma ekuitas swasta yang pernah menyatakan rencana mengembangkan pantai Gaza menjadi resort mewah. Sementara itu, Witkoff—utusan khusus Timur Tengah sekaligus teman golf Trump adalah seorang agen properti yang selama negosiasi gencatan senjata Gaza berhasil menarik investasi dana sebesar 4 miliar dolar dari negara-negara Teluk. Mereka bernegosiasi bukan demi kehidupan rakyat biasa dan perdamaian, melainkan demi kepentingan para penguasa Amerika.

Jurnal medis terkemuka The Lancet menyoroti tingkat kematian kumulatif dan jangka panjang yang disebabkan oleh perang. Analisisnya menunjukkan bahwa untuk setiap satu orang yang tewas akibat pemboman atau penembakan, setidaknya empat orang meninggal secara tidak langsung akibat dampaknya—seperti kekurangan nutrisi, penyakit menular, dan terhentinya layanan kesehatan. Ini pun merupakan angka yang konservatif. Secara khusus, situasi terkini di Gaza dan Timur Tengah disebut sebagai healthocide: yaitu pembantaian kesehatan masyarakat. Disebut demikian karena perang secara sistematis menghancurkan infrastruktur kesehatan, menyebabkan anak-anak tidak dapat menerima vaksin seperti campak dan polio sehingga wabah penyakit pun merebak.

Tidak hanya di Gaza, di Iran pun Amerika Serikat dan Israel membombardir tenaga medis, fasilitas kesehatan, sekolah, serta infrastruktur energi tanpa pandang bulu. Apa yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah saat ini merupakan genosida sekaligus pembantaian kesehatan. Mengapa kita harus mendukung perang semacam ini dengan memasok senjata dan mengirim pasukan?

Kami, para tenaga kesehatan yang profesinya adalah menyelamatkan nyawa dan menjaga kesehatan, akan terus bersama gerakan perdamaian anti-perang hingga akhir demi menghentikan pembantaian kesehatan ini. Kami memahami apa arti kelangsungan hidup manusia yang bermartabat dan apa itu perdamaian sejati. Perdamaian sejati adalah suara dan solidaritas kita yang menentang perang dan menolak pengiriman pasukan.

Olivia warga Amerika dan aktivis mahasiswa dari “Yallah Yonsei”

Halo semuanya dan terima kasih telah hadir. Saya berbicara dengan nama “Olivia” yang saya gunakan sebagai nama samaran untuk melindungi diri saya. Saya adalah warga Amerika yang telah menyaksikan dan mengadvokasi melawan genosida di Gaza selama tiga tahun terakhir, dan saya dapat melihat jenis kekerasan dan kekejaman yang sama dalam kekerasan terhadap Iran semuanya didanai dengan dolar Amerika dan bom Israel.

Ini bukan perlindungan. Menembak anak-anak dengan drone di Palestina membom sekolah dasar perempuan di Iran. membunuh seorang perempuan hamil yang mengandung anak kembar di Lebanon ini tidak akan pernah menjadi perlindungan atau kebebasan. Ini adalah pembunuhan yang Amerika Serikat dan Israel tolak untuk di pertanggung jawabkan, perang agresi yang dimaksudkan untuk menyebarkan kekuasaan imperialis para penjajah.

Pembunuhan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel adalah demi kepentingan para miliarder bukan para pekerja dunia—bahkan bukan rakyat pekerja Amerika sendiri. Ketika Immigration and Customs Enforcement (ICE) menangkap orang-orang di jalanan dan menjaga bandara-bandara kami ketika biaya kesehatan, pendidikan dan perumahan di Amerika Serikat melonjak, ketika warga Amerika kehilangan kemampuan untuk memberi makan diri mereka sendiri akibat pemotongan pendanaan pekerjaan dan bantuan pangan, para pemimpin negara saya dari kedua sisi spektrum politik telah menjadikan Israel sebagai penerima kumulatif terbesar bantuan luar negeri Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Mereka telah mendanai kematian lebih dari 75.000 orang di Palestina, lebih dari setengahnya adalah perempuan, anak-anak dan lansia, serta kematian hampir 2.000 orang di Iran.

Bayangkan keluarga Anda. Mungkin Anda memiliki seorang anak atau adik yang sedang mengerjakan tugas hari ini. Mungkin Anda memiliki seorang lansia, orang tua atau kakek-nenek yang telah merawat keluarga Anda selama puluhan tahun. Sekarang bayangkan orang-orang ini anggota keluarga tersebut hidup di Palestina, Iran, atau Lebanon, menghadapi kematian yang kejam dan mengerikan setiap hari sambil tidak memiliki akses terhadap makanan dan air, tempat tinggal atau obat-obatan. Inilah kondisi yang telah diciptakan oleh Amerika dan Israel bagi jutaan orang.

Ini bukan kebebasan; ini adalah penjajahan.

공유