Indonesian Contents

1. Lindsey German — Atas nama Stop the War Coalition, UK.

Kawan-kawan dan Sahabat-sahabat yang terhormat,

Kami sangat senang ketika mendengar ‘Gerakan Solidaritas Rakyat untuk Palestina (People in Solidarity with Palestinians)’ di Korea akan mengadakan ‘Hari Aksi Bersama Global’ pada tanggal 11 Oktober, menindaklanjuti seruan yang disampaikan dalam Konferensi Anti-Perang Global yang dilaksanakan bulan Juni lalu di London.

Konferensi tersebut bertujuan untuk memperkuat upaya dan kerja kita untuk Palestina. Kami merasa gembira mendengar ada banyak kegiatan internasional pada akhir pekan tanggal 10/11 Oktober, yang merupakan salah satu tanggal yang ditetapkan pada seruan dari konferensi tersebut, seiring dengan peringatan tahun ketiga sejak Israel meluncurkan serangan genosidanya ke Gaza.

Sejak saat itu, gerakan solidaritas internasional berkembang di segala penjuru dunia, dan kami bangga menjadi bagian di dalamnya. Namun kami juga menyadari bahwa ini adalah perang yang lebih luas yang didorong oleh Trump dan imperialisme AS. Serangan Trump dan Netanyahu terhadap Iran adalah illegal dan sama sekali tidak memiliki pembenaran. Ia terus berupaya menyeret dunia ke dalam perang besar lainnya, tanpa melihat fakta bahwa ‘perang melawan teror (war on terror)’ selama seperempat abad terakhir ini adalah sebuah kegagalan.

Kawan-kawan sekalian juga menentang langkah pemerintah Korea Selatan yang mendukung aksi militer Trump, termasuk rencana pengiriman pasukan Korea Selatan ke Iran. Meningkatnya militerisasi di seluruh dunia, tidak hanya di Pasifik, namun juga di Eropa, membuat perang di masa depan jauh lebih mungkin terjadi. Hal ini akan membawa dampak manusiawi, ekonomi, dan sosial yang sangat besar bagi kaum buruh dan rakyat pekerja dimanapun mereka berada.

Kami yakin bahwa aksi bersama internasional pada tanggal 11 Oktober di Korea akan terlaksana dengan sukses. Kami menghimbau semua orang yang mampu untuk mendukung dan berpartisipasi dalam demonstrasi tersebut. Para penguasa kita ingin mempertahankan dunia yang penuh akan perang dan penindasan. Solidaritas internasional adalah penawar paling ampuh untuk melawannya.

Salam hangat,

Lindsey German
Atas nama Stop the War Coalition, UK.

2. Kim Young — Profesor Emeritus Universitas Inha dan Koordinator Bersama Jaringan Intelektual dan Pemimpin Agama untuk Masyarakat Demokratis

Hari ini, kita berkumpul untuk memperingati tiga tahun penderitaan dan genosida di Gaza. Kita berdiri bersama masyarakat dari berbagai negara yang menolak kekejaman Israel dan ingin melihat perang ini segera berakhir demi terciptanya dunia yang damai.

Selama tiga tahun terakhir, rakyat Palestina telah mengalami penderitaan yang sangat berat akibat serangan Israel di Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga 7 Oktober 2025, sekitar 67.000 warga sipil telah meninggal dunia dan 169.000 orang mengalami luka-luka. Di antara para korban, sekitar 20.000 adalah anak-anak dan lebih dari 10.000 adalah perempuan.

PBB juga telah memperingatkan bahwa serangan terhadap rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk anak-anak serta bayi, penghancuran sekolah, pemindahan paksa warga, dan kelaparan telah membahayakan kehidupan banyak anak di Gaza.

Selama tiga tahun ini, Gaza terus menghadapi serangan udara, penghancuran fasilitas umum, pembatasan bantuan dan kebutuhan pokok, serta pengusiran warga dari rumah mereka. Semua ini merupakan tindakan yang tidak manusiawi karena merenggut hak manusia untuk hidup dengan aman dan bermartabat.

Saat ini, sebagian besar wilayah Gaza telah hancur. Banyak warga Palestina kehilangan nyawa, terluka, atau terpaksa meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri. Kehancuran yang terjadi sangat besar dan sulit dibayangkan.

Penyair terkenal Korea, Na Hee-deok, yang menulis lirik lagu Cricket yang dinyanyikan oleh Ahn Chi-hwan, turut menggambarkan penderitaan rakyat Palestina melalui puisinya yang berjudul:

“Neraka Bernama Gaza”
— Na Hee-deok

Orang-orang memukul panci kosong dengan sendok sambil berteriak bahwa ada manusia yang sedang mati kelaparan.

Ada yang meninggal karena kelaparan, dipukuli, tenggelam, terinjak-injak, jatuh dari ketinggian, terbakar, atau karena penyakit.

Setiap hari, begitu banyak orang kehilangan nyawa.

Sebuah Holocaust yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang dahulu juga pernah menjadi korban Holocaust.

Mengapa mereka tidak bisa melihat bahwa mereka sedang melakukan hal yang sama seperti Hitler?

Mengapa mereka ingin menjadikan tanah Palestina sebagai tempat yang begitu mengerikan, sebuah neraka bernama Gaza?

Perang merupakan tindakan kekerasan yang tidak manusiawi dan menghancurkan kehidupan banyak orang. Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa manusia.

Choe Je-u, pendiri ajaran Donghak, pernah mengajarkan bahwa manusia adalah langit. Artinya, setiap manusia memiliki nilai dan martabat yang harus dihormati.

Cendekiawan Tiongkok, Zhu Xi, juga mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kehidupan yang berharga. Jika kita mengembangkan sisi terbaik dalam diri setiap orang, dunia ini bisa menjadi tempat yang lebih baik.

Bahkan batu yang berada di pinggir jalan memiliki bentuknya sendiri. Bunga dandelion yang tumbuh di lembah pun seolah menerima cahaya dan berkah dari bintang-bintang pada malam hari. Jika hal-hal kecil seperti itu memiliki keindahannya sendiri, tentu kehidupan manusia jauh lebih berharga.

Karena itu, menyerang Palestina tanpa membedakan warga sipil dan pihak yang bertempur, serta membunuh begitu banyak orang, merupakan tindakan yang mencoreng kemanusiaan dan peradaban kita. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan penderitaan sebesar ini.

Netanyahu harus segera menghentikan perang dan bertanggung jawab atas dugaan kejahatan perang yang telah dilakukannya.

Kami juga mendesak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menghentikan dukungannya terhadap Israel dan tidak mendukung perang yang tidak dapat dibenarkan terhadap Iran. Sebagai pemimpin negara yang memiliki pengaruh besar di dunia, ia seharusnya membantu menciptakan perdamaian, bukan memperpanjang konflik.

Mari kita berdiri bersama masyarakat dunia yang mencintai perdamaian dan menghargai kehidupan. Kita harus terus menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina dan bersama-sama berusaha mengakhiri perang ini.

Sekarang, mari kita menyuarakan tekad kita bersama untuk perdamaian.

Seruan Penutup

Warga dunia yang mencintai perdamaian dan menghargai kehidupan, mari kita berdiri bersama rakyat Palestina!

Netanyahu, hentikan genosida dan pembantaian terhadap rakyat Palestina sekarang juga!

Trump, jangan memperburuk konflik dan jangan ikut mendukung perang yang menghancurkan kehidupan masyarakat di Timur Tengah!

3. Keith, orang Amerika

Terjemahan pidato belum tersedia.

4. Alle, anggota dari Ewha Intifada, klub mahasiswa untuk Palestina di Ewha Woman Univ.

Pada Hari Aksi Global untuk Palestina ini, kita berkumpul setelah tiga tahun pembunuhan dan penghancuran di Gaza. Namun, penderitaan rakyat Palestina sudah berlangsung semenjak Nakba di tahun 1948.

Generasi kita sudah menjadi saksi atas kejahatan-kejahatan ini: anak-anak yang ditarik dari bawah reruntuhan, keluarga-keluarga yang dilenyapkan, kota-kota yang dihancurkan, dan suatu bangsa yang menjadi sasaran genosida.

Di masa lalu, banyak orang akan berkata, “Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di Palestina.” Namun hari ini, gambar-gambar dan kesaksian-kesaksian akan hal itu terpampang jelas di depan mata kita. Mereka yang tidak tahu apa yang sedang terjadi adalah orang-orang yang memilih untuk abai. Ketidaktahuan tidak bisa lagi dijadikan alasan.

Orang tua dan kakek nenek kita menyaksikan pembantaian dan tak berdaya terhadapnya. Tetapi kita memiliki sarana untuk menyuarakan suara rakyat Palestina, membagikan informasi, mengorganisir unjuk rasa, dan menekan mereka yang berkuasa untuk menghadirkan perubahan.

Tragedi ini harus berakhir di generasi kita. Kita tidak boleh membiarkan generasi mendatang menyaksikan pemandangan yang sama, merasakan kepedihan yang sama, dan terus-menerus menuntut hak-hak mereka.

Tetaplah berunjuk rasa, bersuara, membagikan berita dan kesaksian dari Palestina, melakukan boikot, serta mengambil setiap tindakan yang dapat membangun tekanan akan hal ini.

Jangan pernah meremehkan suara maupun usahamu. Mungkin kita tidak akan melihat hasilnya dalam sekejap mata, tetapi bungkam tidak akan pernah membawa perubahan apapun.

Jika bukan kita yang berusaha mengakhiri tragedi ini, lantas siapa lagi? Berapa generasi lagi yang harus menderita sebelum kita mengambil tindakan?

Marilah menjadi generasi yang tidak hanya berdiri dan menonton, melainkan generasi yang memilih untuk bertindak.

5. Su-jin Cho, guru sekolah menengah dan anggota komite koordinator ‘Solidaritas Guru-Guru dengan Palestina’

Pembantaian mengerikan dan perang terus berlanjut, namun di waktu yang bersamaan, secercah harapan yang besar sedang terbuka. Siswa-siswi di Perancis yang memblokade sekolah-sekolah mereka mengibarkan bendera Palestina. Dengan menyerukan bahwa ada “€70 miliar untuk militer, tapi tidak ada satu perak pun untuk pendidikan”, mereka menentang perang dan menuntut agar uang tersebut lebih baik dialokasikan untuk pendidikan, kesejahteraan, dan layanan publik lainnya. Gerakan solidaritas untuk Palestina dan gerakan anti-perang kini mulai saling terhubung dengan perjuangan serta tuntutan kelas pekerja di seluruh dunia. Dan hal ini tidak hanya terjadi di Perancis. Tahun lalu dan tahun ini, para pekerja di Yunani dan Italia memblokir pengiriman senjata yang ditujukan ke Israel serta mengorganisir mogok kerja massal sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Saat ini, para guru di Korea Selatan sedang mengumpulkan tanda tangan untuk petisi menentang pengiriman pasukan ke perang di Iran. Tuntutan kami pun sama: “Gunakan uang untuk pendidikan dan kesejahteraan, bukan untuk pembantaian dan perang!” Bagaimana mungkin masuk akal pemerintah menggelontorkan uang untuk anggaran militer namun memotong anggaran untuk pendidikan hingga 20 triliun won? Sejauh ini, 33 organisasi guru dan sekitar 1.200 guru secara individu telah bergabung dalam petisi menolak pengiriman pasukan. Tanda tangan masih terus berdatangan bahkan setelah konferensi pers presiden yang menyesatkan, di mana ia mengklaim bahwa “tidak akan ada pengiriman pasukan”. Mereka yang menandatangani petisi ini bisa melihat udang di balik batu dari alasan ‘kepentingan nasional’ dan menyadari bahwa usulan ‘perluasan operasi Unit Cheonghae’ merupakan indikasi adanya niat untuk campur tangan dalam perang di Iran.

Gerakan solidaritas terhadap Palestina dan gerakan menentang perang di Iran harus bersatu dan tumbuh lebih kuat. Merupakan hal yang penting untuk turut menghubungkan gerakan-gerakan ini dengan perjuangan kelas pekerja dalam melawan upaya pemerintah Korea Selatan yang mendukung AS dan Israel. Seorang guru di Perancis melakukan aksi mogok kerja sambil membawa poster bertuliskan, “Jangan tahan para siswa yang sedang bangkit. Mereka juga sedang membangkitkan kita.” Dan itu sangat benar. Mari belajar dari siswa-siswi Perancis dan bangkit bersama!

6. Ghiwa Dandach — Warga Lebanon dan profesor di Universitas Kyungsung, Busan

Hari ini, kita berkumpul di sini untuk mengecam genosida terhadap rakyat Palestina yang dilakukan oleh Israel. Selama bertahun-tahun, rakyat Palestina telah mengalami berbagai bentuk kekerasan dan penderitaan. Namun, dalam tiga tahun terakhir, apa yang terjadi di Palestina akhirnya semakin terlihat oleh dunia.

Penderitaan rakyat Palestina sebenarnya sudah berlangsung selama 78 tahun. Namun, dunia baru benar-benar menyaksikan kenyataan ini ketika konflik semakin besar dan perhatian internasional mulai tertuju ke sana. Israel mungkin berharap bisa mendapatkan simpati dari masyarakat dunia, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang dari berbagai negara mulai bersatu, mengecam tindakan Israel, dan menunjukkan dukungan kepada rakyat Palestina, termasuk hak mereka untuk membela diri dan melawan penindasan.

Meskipun gerakan solidaritas untuk Palestina terus berkembang, Netanyahu dan pihak-pihak yang mendukungnya masih berusaha memberi berbagai cap negatif kepada mereka yang bersuara untuk Palestina. Ada yang dituduh sebagai teroris, antisemit, bahkan ekstremis.

Namun, semua tuduhan itu tidak membuat kami berhenti bersuara.

Biarkan mereka terus mencoba menghentikan gerakan ini dengan berbagai cara. Mereka tahu, sama seperti kita, bahwa perubahan yang selama ini kita harapkan mungkin sudah semakin dekat. Sesuatu yang dahulu terasa mustahil dan masih sangat jauh, kini terasa begitu dekat, seperti napas yang menyatu dengan jiwa.

Karena itu, saya ingin mengatakan satu hal: jangan pernah berhenti memperjuangkan Palestina.

Anak-anak Palestina melihat kepada kita dengan mata kecil mereka, penuh harapan dan kebanggaan. Jika suatu saat kalian mulai merasa ragu atau kehilangan semangat untuk terus berjuang, cobalah melihat keadaan di sekitar kalian.

Ketika kalian melihat seorang anak di Korea bermain layang-layang dengan bahagia, ingatlah bahwa seorang anak Palestina bisa menghadapi bahaya tembakan hanya karena ingin melakukan hal yang sama.

Ketika kalian melihat seorang anak perempuan tersenyum bahagia mengenakan baju barunya, ingatlah bahwa seorang anak perempuan Palestina mungkin harus mengenakan kain kafan sebelum sempat menikmati masa kecilnya.

Ketika kalian melihat anak-anak bermain dengan bebas dan tertawa bersama, ingatlah bahwa anak-anak Palestina justru harus berlari ketakutan dari satu tempat ke tempat lain demi menyelamatkan diri.

Dan ketika kalian melihat seorang anak memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang, ingatlah anak-anak Palestina yang bahkan harus mengenali jasad ibu mereka melalui rambutnya.

Inilah kenyataan yang dihadapi oleh banyak keluarga Palestina. Sesuatu yang bagi sebagian dari kita merupakan bagian sederhana dari kehidupan sehari-hari, bagi mereka bisa menjadi hal yang sangat berbahaya atau bahkan tidak mungkin dilakukan.

Jadi, jangan menyerah. Teruslah bersuara, teruslah menunjukkan solidaritas, dan jangan biarkan penderitaan rakyat Palestina dilupakan oleh dunia.

Hidup gerakan perlawanan rakyat! Hidup Palestina yang merdeka! Seluruh Palestina dari ujung sungai hingga laut!

7. Kim Jong-hwan — Aktivis dari Serikat buruh

Saat ini, kita sedang berada di titik penting dalam sejarah dunia.

Perkembangan AI, ancaman perang, krisis ekonomi, krisis lingkungan, hingga semakin kuatnya kelompok sayap kanan menjadi tantangan besar yang kita hadapi bersama. Namun, di mana pun masyarakat bangkit untuk melawan berbagai krisis tersebut, bendera Palestina selalu terlihat.

Mulai dari aksi mogok nasional menentang militerisme di Italia, demonstrasi memperingati Nakba di Inggris yang diikuti sekitar 100.000 orang dan menjadi tantangan besar bagi kelompok sayap kanan, aksi mogok para pekerja Google yang menolak penggunaan AI untuk kepentingan militer, hingga aksi perlawanan para pelajar SMA di Prancis yang kini mulai menyebar ke berbagai negara Eropa. Di semua gerakan ini, bendera Palestina terus berkibar.

Bagi saya, Palestina menjadi gambaran paling jelas yang menunjukkan betapa banyak hal di dunia kita saat ini yang sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Itulah sebabnya para pemimpin dan pihak yang berkuasa sering kali bersembunyi di balik kata-kata dan sikap yang penuh kemunafikan.

Belum lama ini, Inggris berbicara tentang kemungkinan menutup konsulatnya di Yerusalem. Namun, di saat yang sama, Inggris masih terus memasok senjata dan memberikan bantuan dana kepada Israel. Jerman, Italia, dan Prancis juga melakukan hal serupa.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, juga tidak jauh berbeda. Ia pernah berbicara tentang kemungkinan menangkap Netanyahu, tetapi bahkan tidak bersedia memenuhi tuntutan sederhana untuk meninggalkan ruangan saat Netanyahu berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kantor Kepresidenan Korea Selatan juga menyatakan bahwa pemerintah tidak menolak permintaan Trump untuk mengirim pasukan. Kalau begitu, bukankah ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Korea Selatan sedang mempertimbangkan untuk ikut terlibat dalam perang?

Lalu, kepada siapa kita seharusnya menaruh kepercayaan?

Menurut saya, kita harus melihat kepada para pelajar dan guru di Prancis yang turun ke jalan untuk menyuarakan perlawanan, para penyewa tempat tinggal dan pekerja di Spanyol yang terus berjuang, serta para pekerja pelabuhan di berbagai wilayah Mediterania yang menunjukkan solidaritas mereka.

Merekalah contoh bahwa masyarakat biasa bisa bersatu dan melawan ketidakadilan.

Hari ini, bendera Palestina bukan sekadar simbol dukungan terhadap rakyat Palestina. Bendera ini juga menjadi simbol keberanian untuk berdiri di pihak yang benar dalam sejarah.

Saya bangga karena hari ini kita bisa berkumpul bersama untuk memperingati tiga tahun genosida di Gaza dan menunjukkan bahwa solidaritas kita masih tetap hidup.

Mari kita terus berdiri bersama di Korea menunjukkan solidaritas kepada rakyat Palestina, sekaligus menolak keterlibatan Korea Selatan dalam perang terhadap Iran.

8. Nareman — Warga Palestina yang tinggal di Korea dan Sekretaris People in Solidarity with Palestinians (Solidaritas Bersama Rakyat Palestina)

Teman-teman, kawan seperjuangan, dan seluruh masyarakat dunia yang masih menjunjung tinggi kebebasan,

Kami, rakyat Palestina, tidak pernah memilih untuk menjadi simbol keteguhan. Kami juga tidak pernah ingin mengajarkan dunia tentang arti kebebasan melalui darah dan penderitaan kami.

Yang kami inginkan sebenarnya sederhana. Kami hanya ingin hidup dengan bermartabat, melihat anak-anak kami tumbuh dengan aman, kembali ke rumah kami, dan mengolah tanah kami sendiri tanpa harus takut kehilangan semuanya.

Selama tiga tahun genosida di Gaza, kami terus berjuang untuk bertahan hidup. Kami berjuang melawan upaya untuk menghapus keberadaan kami, melawan kebungkaman dunia, dan melawan anggapan bahwa pembunuhan terhadap sebuah bangsa adalah sesuatu yang bisa dianggap biasa.

Namun, kami tidak pernah benar-benar sendirian. Dan selama kalian tetap berdiri bersama kami, kami tahu bahwa kami tidak akan pernah sendirian.

Solidaritas yang kalian tunjukkan bukanlah sekadar bentuk belas kasihan. Ini adalah sikap kemanusiaan dan moral untuk menentang genosida, pendudukan, dan segala bentuk ketidakadilan.

Kehadiran kalian di sini membawa pesan penting bagi rakyat Gaza, Tepi Barat, dan seluruh Palestina: masih ada orang-orang yang melihat penderitaan kami, mendengar suara kami, dan bersedia berdiri bersama kami.

Perjuangan kami juga bukan hanya untuk Palestina. Kami berjuang untuk semua orang yang menginginkan kebebasan dan keadilan, agar perang dan ketidakadilan bisa berakhir di mana pun itu terjadi.

Dari Palestina hingga Sudan, Yaman, Lebanon, Iran, dan Kongo, hingga Prancis, Spanyol, dan berbagai belahan dunia lainnya, di mana pun masih ada orang yang mengalami penindasan dan eksploitasi, perjuangan ini tetap memiliki tujuan yang sama.

Kita semua menginginkan kehidupan yang lebih baik, martabat manusia yang dihormati, dan masa depan yang tidak dibangun di atas kematian serta penderitaan orang lain.

Dari Palestina hingga Korea, dari Gaza hingga seluruh masyarakat dunia, kita akan terus berdiri bersama. Karena keadilan tidak mengenal batas negara, kebebasan kita saling berkaitan, dan masa depan kita terhubung satu sama lain.

Kita tidak akan berhenti sampai genosida berakhir, sampai perang dan pendudukan dihentikan, dan sampai setiap bangsa mendapatkan kebebasan, martabat, serta hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Hidup Palestina yang merdeka!

Hidup perjuangan seluruh rakyat dunia yang memperjuangkan kebebasan dan keadilan!

공유